Apapun alasannya, kebahagiaan adalah tujuan hidup dari semua orang, tetapi kebahagiaan hadir karena adanya penderitaan. Kebahagiaan dan penderitaan adalah hasil dari kesadaran, yaitu pemahaman manusia dalam mendefinisikan hidupnya. Persoalannya, semakin manusia mampu mendefinsikan kebahagiaan, sesungguhnya ia semakin tidak bisa memperoleh kebahagiaan, karena definisi sebagai kesadaran selamanya tidak akan sama dengan realitas sebagai kenyataan. Kenyataan lebih rumit dan kompleks, dan harus disadari, kesadaran adalah suatu usaha manusia dalam memahami kenyataan. Jadi, kesadaran selalu tidak akan sama dengan kenyataan. Kenyataan selalu melahirkan hal-hal yang tidak terduga oleh kesadaran. Bagaimana kesadaran kita desain untuk menghadapi kenyataan?
1.
Saat manusia berada di suatu keadaan yang membuatnya sadar, bahwa keadaan ini membahagiakan, maka pertanyaannya: kenapa kita tahu bahwa keadaan ini disebutnya kebahagiaan? Jawabnya, karena kita sudah tahu tentang keadaan yang tidak membahagiakan, keadaan yang sudah pernah dilalui, dan keadaan ini berberbeda dengan keadaan sekarang. Artinya, keadaan kita sekarang yang disebut “bahagia” maknanya ditentukan oleh keadaan masa lalu kita yang disebut “tidak bahagia”. Di sinilah, teori oposisi-biner terbentuk, yaitu dua dunia yang berlawanan selalu hadir untuk saling mengisi dan memberi makna. Akan tetapi, persoalannya adalah, apakah manusia menyadarinya?
Suatu pagi saya mengirim pesan singkat kepada beberapa kawan. Pesan singkatku berisi pernyataan, “Manusia perlu melakukan kesalahan agar tahu hakikat dari kebenaran; perlu melakukan perpisahan dan kesendirian agar tahu indahnya pertemuan dan kebersamaan, dan perlu melakukan perselingkuhan agar tahu berartinya kesetiaan. Tanpa kita berbuat salah, maka selamanya kita tidak akan paham dengan yang benar. Sebenar-benarnya “salah” adalah yang disadari karena sebenar-benarnya “benar” juga harus disadari.”
Pernyataan saya mengungkapkan kesadaran sebagai muara dari kehidupan. “Salah” dan “benar” mendapat hakikatnya jika dilakukan dengan kesadaran, misalnya, kesalahan, dalam norma agama, tidak mendapat hakikatnya sebagai “dosa”, jika dilakukan di luar kesadaran atau kesengajaan, misalkan lupa, gila, dan tidak disadari. Demikian halnya dengan kebahagiaan, bahagia tidak bisa diidentifikasi tanpa interpretasi yang membawanya pada kesadaran. “Salah” dan “benar” adalah suatu keadaan yang perlu lahir dari kesadaran, tanpa kesadaran, “salah” dan “benar” tidak mendapat hakikat makna yang sebenarnya, tentulah, “salah” dan “benar” sama posisinya dengan “kebahagiaan” dan “penderitaan”.
Saya menyadari bahwa “kebahagiaan” dan “penderitaan” itu bukanlah peristiwa, melainkan makna. Oleh karena itu, “kebahagiaan” dan “penderitaan” bukanlah keadaan, tetapi substansi dari keadaan. Inilah yang mendasari pernyataan saya, tanpa “kesadaran” peristiwa sebagai dimensi permanen manusia dalam menjalani kehidupan tidak akan bisa menemukan arti “kebahagiaan” dan “penderitaan”. Sehebat apapun orang merumuskan hidup demi tujuan kebahagiaan, selamanya kebahagiaan itu hadir dalam bungkusan-bungkusan peristiwa. Dari sinilah, manusia perlu memahami kesadaraan dirinya untuk mendefinisikan “bahagia”. Tanpa hal ini, selamanya kebahagiaan menjadi “dunia yang hilang” tidak akan pernah terpahami.
Kesalahan sebagai Kesadaran
Kesalahan sebagai kesadaran manusia untuk berbuat salah –-saya menganggap kesalahan ini sama dengan penderitaan— bukanlah kesadaran manusia yang memang sengaja untuk berbuat salah. Seperti halnya bahagia, kesalahan hakikatnya juga substansi yang terdapat pada peristiwa. Kesalahan lahir dalam sebuah peristiwa, sehingga kesalahan yang disadari adalah kesalahan yang diterima sebagai peristiwa yang harus dipahami –-saya tidak mempermasalahan soal agama-etika karena ini perspektif, tapi ini menyangkut pemahaman diri (self-understanding)— Dengan cara ini, kesalahan sebagai substansi peristiwa, telah dimaknai oleh kesadaran. Kesadaran atas kesalahan inilah yang akan membuka pemaknaan terhadap kebahagiaan semakin sempurna.
Akan tetapi, kenyataan manusia yang takut terhadap kesalahan membuatnya ia tidak benar-benar memahami peristiwa yang salah bagi dirinya. Referensi hidup yang hanya memburu kebahagiaan membuatnya ingin berusaha meminimalisir kesalahan. Imabasnya, sebenar-benarnya kebahagiaan pun tidak bisa diraih. Hasilnya, kita hanya akan menjadi manusia yang hanya: merasa bahagia dan merasa tidak pernah bahagia. Tesis ini akan saya buktikan, misalnya, makna kesuksesan dapat dipahami dengan paripurna, jika kesuksean didapat setelah dilalui dengan kesusahan. Tanpa kesusahan, kesuksesan kehilangan kediriannya, menjadi biasa dan bahkan bukan sukses yang sebenarnya. Seseorang yang kaya karena lahir dari kemiskinan merupakan kaya yang sesungguhnya daripada orang kaya yang lahir dari keluarga kaya.
Analogi di atas bisa dipahami dengan jelas karena berpusat pada hal yang tampak-universal. Akan tetapi, jika sudah menyangkut kebahagiaan sebagai sesuatu yang abstrak-individual, tentulah sangat rumit. Apalagi ini juga menyangkut wilayah kesadaran yang sangat privasi. Namun, satu hipotesis awal sudah dapat disimpulkan: hakikat kebahagiaan lahir dari hakikat penderitaan, dan hakikat ini adalah persoalan makna yang hadir dalam setiap peristiwa kehidupan.
Dengan demikian, kesalahan sebagai kesadaran adalah menerima dengan kesadaran penuh terhadap setiap peristiwa hidup yang dipersepsi salah, bertolak balik dengan kebahagiaan. Peristiwa ini tidak boleh disesali, dinafikan, dan ditiadakan, tetapi diterima sebagai bagian rangkaian hidup yang akan membawa kita pada kebahagiaan. Kesadaran ini didasari pada manusia sebagai makhluk yang labil sehingga penyesalan yang berlebihan bisa menghilangkan hakikat dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Dengan cara ini, bagi saya, manusia telah menyadari, mendefinisikan, dan menempatkan dirinya sebagai manusia yang sebenarnya, yang hidup dalam rangkaian untuk memperoleh makna “kebahagiaan”.
Memahami Keputusan sebagai Peristiwa
“Kebahagiaan” dan “penderitaan” adalah rangkaian hidup. Jika keduanya lahir karena kesadaran, maka kesadaran harus menjadi dasar manusia dalam hidup. Di sinilah, keputusan sebagai langkah awal dari kesadaran dalam hidup harus diadakan, orang sering menyebutnya cita-cita atau tujuan, dan saya menyebutnya sebagai politisasi hidup. Tanpa politisasi hidup, apa yang kita lakukan hakikatnya adalah ketidakmengertian diri, tanpa arah, tanpa, langkah, dan strategi (pada kenyataannya, memang perilaku manusia lebih banyak digerakan oleh ketidaksadaran. Apa yang saya maksud kesadaran di sini adalah kesadaran langkah dalam mewujudkan hal-hal yang besar, misalnya, kebahagiaan atau kesuksesan hidup), maka kesadaran yang jelas menuju hidup dan mimpi menjadi tidak jelas, bukan tidak ada. Dengan cara ini, bagaimana orang akan tahu dengan posisi dirinya?
Keputusan sebagai langkah awal hakikatnya adalah mendefinisikan makna dari tujuan hidupnya. Seperagkat definisi ini diperlukan, karena yang selanjutnya akan dihadapi manusia, adalah peristiwa yang membawa fenomena dengan karakteristiknya tersendiri. Tanpa memahami kesadaran dari makna tujuan hidupnya, manusia tidak tahu dengan makna-makna yang hadir dalam setiap peristiwa yang dihadapi. Dengan demikian, memahami keputusan adalah langkah awal dalam memahami peristiwa kehidupan sehingga segala peristiwa yang akan kita lalui terkonsep proses pemaknaan yang intens dengan tetap menerima setiap kejadian dan konsekuensi dari setiap peristiwa.
Di sini saya menekankan, keputusan dan peristiwa harus dipahami sebagai dunia yang resisten dan kotradiksi. Keputusan adalah konseptualisasi kesadaran makna, sedangkan peristiwa adalah konseptualiasai kenyataan. Kenyataannya, kenyataan selalu tidak terpahami oleh kesadaran, seberapa pun usaha manusia itu. Inilah yang didefinisikan oleh Lucien Goldmann, bahwa mau tidak mau manusia harus melakukan akomodasi, menerima kenyataan yang berbeda dari keinginan manusia untuk asimilasi, menskematisasi dan mengkonseptualisasikan hidup sesuai dengan keinginan dan pikiran.
Dengan kenyataan yang tidak bisa ditaklukan oleh kesadaran, maka kita harus selalu menerima setiap peristiwa, sekalipun pahit. Menerima peristiwa adalah kesadaran untuk menikmatinya, meskipun itu adalah penderitaan dan kesalahan. Oleh karena dengan kesadaran menikmati setiap kesalahan dan penderitaan, kita akan paham dengan sebenar-benarnya kebahagiaan. Sudah siapkah kita?
Monday, February 16, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)